Polisi klarifikasi soal kasus asusila di Kota Jayapura

Papuaunik, – Kepolisian Resor Jayapura Kota (Polresta) Jayapura memberikan membantah dan mengklarifikasi terkait aksi demo dari pihak keluarga korban asusila di Mapolda Papua, pada Selasa (19/11) siang, terkait adanya pembiaran kasus tersebut.

“Kasus asusila yang menimpah seorang bocah berusia 12 tahun dengan tersangka berinisial WM, tidak bebas berkeliaran diluar tahanan sebagaimana dituding,” kata

Kapolres Jayapura Kota AKBP Gustav R. Urbinas ketika dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim AKP Sugeng Ade Wijaya di Mapolres, pada Rabu siang.

Menurut dia, tidak ada upaya pembiaran yang dilakukan oleh Polresta Jayapura Kota dalam penanganan kasus tindak pidana asusila dengan korban, WR (12)

Tersangka WM, kata dia, berada diluar penjara bukan karena faktor pembiaran melainkan yang bersangkutan mendapatkan penangguhan penahanan.

“Tersangka sudah kami lakukan penahanan selama 50 hari, sebelum ada surat permohonan penangguhan oleh pihak keluarga,” tegasnya didampingi Kasubag Humas Polresta Jayapura Iptu Yahya Rumra.

Ia pun menjelaskan penangguhan yang diberikan terhadap tersangka pun sangat berdasar, yakni melalui pertimbangan faktor usia dan kesehatan mengingat tersangka sudah lanjut usia.

“Penangguhan berdasarkan permohonan keluarga dan pertimbangan penyidik karena yang bersangkutan berusia 71 tahun. Penangguhan sendiri juga merupakan salah satu hak tersangka yang diatur dalam pasal 31 KUHP,” jelasnya.

AKP Sugeng mengemukakan selama menjalani proses penangguhan, tersangka menjalani wajib lapor satu minggu dua kali sebagai alat control.

“Sejauh ini tersangka selalu koperatif dengan wajib lapor setiap Senin dan Kamis,” ujarnya.

Kasat Reskrim pun menambahkan, saat ini kasus asusila yang menjerat tersangka WM terus berjalan, dimana dalam waktu dekat berkas perkaranya akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jayapura.

“Kendala dalam proses sejauh ini adalah kartu identitas tersangka, namun sudah ada. Rencananya tanggal 21 November ini kami akan tahap satu berkas perkaranya ke Jaksa Penuntut Umum, Kejaksaan Negeri Jayapura,” katanya.

Atas perbuatannya, WM dijerat pasal 76 D junto pasal 81 undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentag perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dibawah Junto undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun penjara.

Sementara itu diketahui kasus asusila yang menimpa bocah berusia 12 tahun terjadi sebanyak dua kali, yakni pada Desember 2018 dan 5 Mei 2019 di rumah milik pelaku yang beralamat di Jalan Kangkung, Hamadi Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.(Andi/Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

88 + = 97