Pak guru, ini baru satu kosong

16 November 2018

Setelah melewati perjalanan jauh dari Kepi, ibukota Kabupaten Mappi, saya akhirnya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kampung Kaibusene. “Inikah tempat tugas saya, ah, yang benar saja.”Sungguh, kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan daerah atau kampung lain di tanah Papua, apalagi di luar Papua.

Saya kembali teringat komentar kebanyakan masyarakat Distrik Haju, “Kaibusene itu kampung yang tidak layak orang manusia tinggal. Adalah mukjizat bila guru-guru yang bertugas di sana merasa betah tinggal di Kaibusene.”Rumah-rumah dikelilingi alang-alang setinggi setengah badan, tanah yang selalu basah dan berlumpur, genangan air di mana-mana.

Semua bangunan tempat tinggal atau rumah berbentuk panggung dengan lantai dan dinding dari papan kayu, beratap rumbia. Tidakada rumah tembok. Listrik dan jaringan telefon tentunya tidak ada juga. Bunyi kendaraan sepeda motor dan mesin pabrikan tidak terdengar sama sekali. Kicauan burung dan desahan dedaunan pohon bersama suara ketinting menjadi bunyi yang akrab ditelinga. Suara usik rerumputan yang membentang luas kampung dan rawa memberi rasa tenang dan nyaman.

19 November 2018

Inilah awal dari perjalanan saya sebagai guru bersama kedua teman guru di SD Inpres Kaibusene, Kabupaten Mappi, Papua. Hari ini adalah hari pertama mengajar kami. Sandal jepit menemani derap langkah menuju sekolah.

Jarak antara rumah dengan sekolah sekitar 500 meter. Perjalanan menuju sekolah harus melewati sebuah jembatan kayu yang kira-kira 50 meter. Tiang penyanggahnya telah patah, papan-papan pada titiannya telah remuk. Saat berjalan saya harus berusaha meringankan berat badan, pelan-pelan melangkah ala cat walk mencari tumpuan yang kuat agar pijakan tidak roboh.

Ketika jembatannya bergoyang karena beban bertambah saya berdiri sejenak, mengambil nafas agar tetap tenang lalu lanjut mengayun langkah mencari tumpuan-tumpuan kuat yang lain di depan hingga ke ujung jembatan.

Di momen ini saya merasa kalah dengan anak murid dalam hal keberanian melewati jembatan rapuh. Mereka berjalan layaknya menginjak tanah kering tanpa merasa ada hambatan. Ada yang berlari kecil melewati jembatan itu, ada yang melangkah dengan santai sambil berbagi cerita dan gelak tawa.

Tiba di sekolah, anak-anak murid sudah menanti kedatangan kami, guru mereka yang baru. Mereka datang sekolah hanya menggunakan pakaian rumah. Tidak ada seragam, apalagi sepatu dan tas sekolah. Rata-rata usia mereka berkisar 15-19 tahun, untuk murid kelas empat sampai enam, usia yang semestinya sudah berada di bangku SMA atau perkuliahan.

Dengan umur yang bisa dikatakan tidak layak sebagai anak SD mereka masih punya niat ke sekolah. Di sini, pepatah pendidikan tidakmengenal usia berlaku.

SD Inpres Kaibusene memiliki tiga ruangan belajar dengan rombongan belajar (rombel) satu sampai enam. Rombel satu dan dua digabung dalam satu ruangan, rombel tiga dan empat satu ruangan, dan rombel lima dan enam satu ruangan.

Tidak ada ruang guru, ruang kepala sekolah, pun kantor. Tak ada WC sekolah. Di samping gedung sekolah ada rumah dinas guru yang masih layak dipakai namun tidak ada kamar MCK.

Saya mengajar di rombel tiga dan empat. Ini merupakan hal baru dan sangat berat bagi saya. “Kira-kira saya bisa mengajar tidak e,” gumam suara di kepala saya saat masuk ruangan. Jujur, saya adalah seorang Sarjana Teknik dengan titel Sarjana Komputer (S.kom).

Ini adalah hari bersejarah dalam perjalanan karir saya, pertama kalinya saya bekerja tanpa menggunakan ilmu saya. Saat mendaftar dan diterima dalam program Guru Penggerak Daerah Terpencil, saya beranggapan akan ditugaskan untuk mengajar computer di SMP atau SMA.

Sayangnya, anggapan saya melenceng. Keadaan ternyata sangat berbeda. Saya tidak ditugaskan mengajar computer, namun Calistung (Baca Tulis Hitung). Kaget, itulah perasaan saya saat mendapat tugas ini.

Loh kok bisa seorang Sarjana Teknik mengajar di Sekolah Dasar. Anda mungkin berpikir begitu, mungkin juga sedikit bingung. Saya tidak menyangka akan menjadi seorang guru SD yang ditugaskan memberantas buta huruf di pedalaman Papua.

Ketika masuk dalam ruangan, saya sedikit bingung. Dalam pikiran saya bertanya-tanya, kira-kira saya mau mengajar apa. Bagaimana mengajar mereka, para murid yang sedang sumringah menyambut kedatangan saya.

Maklum, guru SD bukan basik saya. Ah, tidak apa-apa. Hal ini tidak boleh menghalangi niat luhur saya untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anak pedalaman. Untuk menjadi guru yang sempurna saya tentu belum bisa, namun saya telah belajar banyak hal bagaimana bersikap sebagai guru dari kedua orangtua saya.

Bapa dan ibu saya adalah guru SD. Dalam keseharian di rumah, cara mereka mendidik kami tidak jauh berbeda dengan yang mereka lakukan di sekolah.

Hari pertama mengajar adalah awal dari segala proses latihan kesabaran. Di sini, dalam ruangan ini, kesabaranlah yang menjadi kunci utama bagi seorang guru. Jujur, saya sempat naik pitam tapi juga mau menangis rasanya karena keterbatasan murid-murid akan pengetahuan.

Bayangkan saja, anak-anak usia kelas 3 dan 4 masih harus belajar mengenal huruf A-Z dan juga mengenal angka satu sampai seratus. Menulis dan membaca tentu jauh dari dugaan saya. Sedih, rasanya.

Di sini saya sungguh-sungguh bertemu dengan anak-anak buta huruf, total parah. Ini bukan saja di kelas yang saya bimbing tetapi juga di kelasnya teman saya. Singkatnya, semua anak-anak yang datang ke sekolah hari itu masih buta huruf. Sungguh realitas pendidikan yang sangat memprihatinkan.

Bagi saya, mereka tidak bodoh. Mereka hanya tidak diberikan kesempatan belajar yang semestinya. Saya tidak boleh memvonis mereka bodoh, pikir saya seketika mengetahui keadaan sesungguhnya. Ini karena keterbatasan tenaga pendidik dan juga sarana prasarana yang sungguh sangat tidak memadai dan tidak layak.

Guru-guru yang ditugaskan pun tidak pernah aktif mengajar. Orang tua murid menyebut mereka, guru-guru lokal (orang suku asli), sebagai guru musiman atau guru ujian karena sekolah akan diaktifkan menjelang ujian semester atau ujian nasional.

Hari itu, dalam waktu tiga jam kami belajar mengenal abjad dan angka. Saya mencoba menulis beberapa abjad di papan tulis, lalu meminta mereka menyebut nama abjadnya. Saya membantu menyebutkan nama abjad-abjad tersebut dan mereka mengulangi setelahnya.

Mulanya dilakukan bersama-sama, kemudian saya meminta satu per satu secara acak. Ada yang cepat mengingat, ada yang tidak bisa sama sekali. Baginya deretan abjad yang saya tulis begitu baru dan rumit. Saya lalu berkonsentrasi membimbing mereka yang lambat mengingat nama-nama abjad itu dari bangku ke bangku.

Sesekali saya meminta mereka menulis bentuk abjad yang paling susah mereka ingat, seperti Y, J, Q. Tiga jam berlalu tanpa ada selingan santai. Kami begitu serius. Saat itu saya lupa untuk bercanda dengan mereka. Untungnya, mereka tidak menyerah belajar.

Saya akui, hari itu saya tidak berpikir memberi intermeso menyenangkan di sela-sela keseriusan mempelajari abjad. Kelas pun diakhiri dengan suasana serius. Hari itu saya benar-benar merasa lelah. Ternyata begini rasanya kalau menjadi guru bagi anak-anak buta huruf.

Hari pertama sekolah itu dihadiri murid-murid cuman sebagian, dari 125 jumlah murid berdasarkan data pokok peserta didik. Banyak yang masih berada di hutan. Mereka belum mendapat kabar kedatangan guru baru.

Selama ini sekolah tidak aktif sehingga orang tua membawa anak-anaknya tinggal di hutan mencari makanan atau mencari kayu Gaharu. Dengan segala keterbatasan di sekolah, ada murid yang duduk di lantai pada saat proses belajar mengajar.

Satu bangku harus menampung tiga sampai empat murid. Ini tentu sangat mengganggu proses belajar mereka saat harus bersilang sikut menulis.

Januari 2019

Liburan semester dan kenaikan kelas berakhir, kami kembali ke sekolah. Suasana kali ini berbeda dari sebelumnya, kami berada dalam musim hujan. Kampung terendam banjir. Rumah-rumah dan bangunan lain ikut terendam air yang meluap dari rawa dan kali.

Waktu pergi ke sekolah, murid maupun guru harus menggunakan perahu. Akses jalan menuju sekolah terendam air setinggi dada murid kelas satu. Ada murid yang mendayung perahu sendiri. Ada murid yang cuman memakai baju rumah, sedangkan seragam sekolah di tenteng sampai di dalam kelas baru dipakai seragam sekolahnya.

Ada yang diantar sama orangtuannya menggunakan perahu sambil menggendong adik mereka yang masih kecil. Dan lebih sedihnya, ada murid yang dengan ketulusannya menggendong adik-adiknya yang kelas satu maupun kelas dua pergi maupun pulang sekolah.

Tetapi itu tidak menghalangi niat dan tujuan mereka untuk bersekolahdemi mendapatkan pendidikan yang layak seperti teman sebaya mereka dapatkan dan rasakan di luar Papua.

Agustus 2019

Ini adalah bulan di mana kampung mengalami musim kering. Dimana kampung tidak digenangi air dan banjir, saya dan beberapa murid menanamkan tiang bendera depan sekolah. Kami ingin mengibarkan bendera merah putih di halaman sekolah.

Ketika benderanya sudah dikibarkan seorang murid kelas enam mendekati saya dan berkata, “Pak guru, ini baru satu kosong”. Saya melihat dia dengan perasaan bingung. “Kenapa satu kosong,” saya bertanya penasaran.

Dia lalu menjelaskan bahwa baru kali ini bendera merah putih di kibarkan depan sekolah sejak ia masuk SD. Saya lalu merefleksikan ucapannya. Saya merasa bahwa kecintaan mereka akan sang merah putih khususnya di pedalaman ini sangatlah tulus.

Karena mereka tahu bahwa mereka adalah Indonesia. Indonesia tanpa merah putih yang berkibar depan gedung sekolah rasanya tidak lengkap walaupun lagu dari Sabang sampai Merauke telah mereka hafal dengan baik.

Menutup catatan kecil ini, saya berharap bapak Mentri Pendidikan terpilih, Nadiem Makarim, tergugah untuk memperhatikan pendidikan di pedalaman Papua. Besar harapan saya, tulisan ini bisa dibaca oleh bapak Nadiem.

Kalau ada waktu, sempatkanlah beberapa menit membacanya. Alangkah bahagianya saya bila mendengar kabar gembira ini. Lihatlah kami, Indonesia bukan saja Jawa, Indonesia bukan hanya Jakarta. Papua pun Indonesia

(Catatan Hati dari Timur Matahari Terbit)

Antonius Yosef Tampani
Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT)
Kabupaten Mappi, Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − 7 =