Katage, 2019; surat kepada Emak

.

Dear emak, Apa kabar, mak? Kabar kami bahagia. Hari pertama mengajar di kelas, mereka mengajak saya bernyanyi. Waktu menjelang pukul 12.00 WIT, mereka mulai merasa jenuh dan lelah menulis, mengingat dan membaca abjad yang kutulis di papan.
Beberapa dari mereka mengusulkan untuk bernyanyi. “ado, pa guru, su loyo ini. kita satu lagu dulu ka.” Baiklah. Kami mulai mencari lagu apa yang cocok buat mengembalikan semangat siang.

Satu lagu ketemu. Mereka menyebutnya lagu Yosim, lagu yang dinyanyikan untuk Yosim, tarian lokal di kampung. Ada yang bernyanyi, ada yang menabuh meja sebagai alat musik, tifa, beberapa mulai berdiri lalu ke depan dan menari berputar mengitari ruang depan kelas.

Setelah usai lagu pertama mereka minta lagi hingga ketiga. Pada lagu berikutnya pergantian tugas, yang belum dapat jatah menari mulai bangun dan berhamburan ke depan. Sisanya harus bernyanyi dan menabuh meja.

Nampaknya mood mulai membaik, wajah mereka mulai berseri. Saya mengajak mereka menyanyikan Indonesia Raya. Kelas mulai hening sejenak. Beberapa saling pandang. Ada yang menatap saya serius. “Lagu Indonesia Raya, tau toh?” Kelas tetap hening.

Saya tanya lagi dan mereka masih tetap bengong. Jees! Mereka tidak tahu Indonesia Raya. Saya kemudian menjelaskan bahwa Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan kita, lagu negara kita.

Saya bertanya kita ini negara apa? “Papua,” jawab seorang murid dengan lantang sambil senyum. Oke. Apa bendera kita? “Bintang Kejora,” beberapa menjawab serempak. Saya senyum.

Siang itu kami lanjut dengan cerita saya tentang Indonesia, Jakarta dan segala macam hal yang berkaitan dengan Indonesia. Kelas ditutup dengan doa dan lagu Indonesia Raya.

Kami, saya dan teman-teman siswa, membuat video singkat berjudul Terimaksih Aruna.

Setelah beberapa bulan melatih mereka, teman-teman SD kelas 3, 4 dan 5 membaca, saya perkenalkan mereka majalah Bobo. Mereka, juga kelas 6, tidak tahu majalah itu apa, koran itu seperti apa. Mereka hanya tahu buku.

Ketika melihat Bobo, mereka tanya, “pak guru itu buku apa”. Bagiku, wajar kalau mereka tidak tahu karena tak ada media cetak dan radio di sini.

Teman-teman di kelas saya senang melihat Bobo, mereka senang membolak-balik halaman yang ada gambar hewan-hewan, foto dll. Masih banyak mereka, yang kelas 4, 5, 6, membaca terbata-bata.

Saya ceritakan kalau majalah itu dari Aruna. “Aruna itu siapa, pak guru?” tanya seorang murid. “Aruna itu pak guru punya dosen di Jogja punya anak. Dia masih anak kecil tapi sudah pintar baca. Dia bisa bahasa Inggris. Hebat to,” saya menjelaskan.

Mereka menatap saya dengan serius sambil memegang Bobo. Tak ada komentar atau suara. Mungkin mereka sedang berpikir tentang Aruna, anak kecil seperti apa dia yang bisa bahasa Inggris itu.

Saya mengajak mereka untuk membuat video ucapan terimakasih kepada Aruna yang sudah memberi majalah Bobo. Mereka senang dengan ide ini dan sangat antusias. Saya juga mengajak mereka menulis surat buat Aruna, surat korespondensi.

Mereka menulis tentang siapa mereka, kesukaan mereka dan kegiatan di rumah. Surat-Surat itu akan saya kirimkan saat liburan nanti. Semoga Aruna menyukainya.

Rata-rata usia mereka 10 tahun ke atas. Ada yang sudah 17 tahun. Ada yang tak tahu kapan mereka lahir sebab orang tuanya pun tak ingat. Ada yang lahir di hutan. Ada yang di kampung. Mereka, orang kampung sini, memang lebih banyak tinggal di hutan, tempat mencari makan, tempat kelangsungan hidup mereka yang sesungguhnya. Ketika liburan, orang tua membawa anak-anak ke hutan.

Soal usia remaja yang masih di bangku SD itu karena sekolah tidak aktif selama 6 tahun lebih. Aktif kembali ketika kami ditugaskan.

Ini tidak hanya di Katage tapi seluruh SD yang ada di kampung-kampung Kabupaten Mappi. Ada SD yang 20 tahun lebih tidak aktif. Ada guru tapi sekolah tutup, guru lebih banyak tinggal di kota kabupaten.

Ajaibnya dana BOS mengalir lancar dari kantong Dinas, pengawas sekolah ke para kepala sekolah. Begitulah info yang saya peroleh dari teman-teman Guru Penggerak Daerah Terpencil.

Menjelang UN baru mereka ke kampung kumpulkan siswa peserta UN untuk ikut ujian. Kabarnya, saat ujian guru-guru yang mengerjakan soal, mengisi lembar jawaban. Anak hanya mengisi kolom data diri.

Setiap keluarga memiliki hutan masing-masing. Ada hutan tempat mengumpulkan makanan, mereka menyebutnya sebagai Dusun Sagu Besar.

Di dusun itulah mereka memangkur sagu dan mengumpulkan hasil alam yang bisa diolah jadi makanan. Ada Hutan Berburu, tempat berburu binatang seperti babi, rusa, kasuari dll.

Ada juga Hutan Pamali, tempat suami-istri kawin. Ada rumah di setiap hutan; lantai papan, atap rumbia, dinding pelepah sagu. Tak ada kamar dalam ruang rumah. Di tengah ruang itu dipasang tungku api. Mereka tidur di sekitar tungku api itu.Biasanya api dijaga tetap nyala agar hangat dan mengusir nyamuk.

Mereka hidup dalam satu suku besar yaitu suku Auyu (sering ditulis Awyu, Awuyu, atau Auwiyu). Dalam suku besar ini masyarakat Auyu terbagi dalam sub-sub suku: sub suku Isaghae, Aboghoi, Kakoro, Wudaghang dan Haku. Masyarakat di sini sub sukunya Kakoro. Orang-orang Kakoro memiliki beberapa marga seperti Oni, Peragi, Bumagi, Amagi, Erro, Souw, Harum, Nagaru dan Nabagi.

Ketika pulang sekolah para lelaki remaja ke hutan mencari kayu gaharu yang telah bertahun-tahun terkubur dalam tanah untuk dijual ke para pedagang yang berasal dari Jawa dan Sulawesi. Aktivitas mencari gaharu biasa disebut Mencari atau Lacak Kayu.

Sedangkan hutan tempat melacak kayu disebut Lokasi. Ada siswa yang sering tidak sekolah karena lebih memilih ke hutan. Mereka lebih butuh ke hutan melacak kayu atau mengecek jerat yang dipasang, barangkali ada babi hutan, burung kasuari, tuban atau tikus hutan yang terjerat, daripada sekolah.

Ketika ditanya, “ko (kau) kenapa tidak ke sekolah?” Jawabannya, “sa (saya) ke lokasi ikut bapa lacak kayu, pak guru”. Ada yang jawab, “Sa pigi cek jerat, pa guru tapi tidak dapat. Nanti pas dapat sa bawa kasi pa guru baru kita bakar makan, iya to.”

Mereka menjawab dengan jujur dan tanpa merasa bersalah, saya senyum-senyum saja. Benar-benar lucu. Hehehe…

Setiap hari Jumat dan Sabtu banyak anak-anak perempuan tidak ke sekolah.

Mereka pergi ke kali memancing ikan atau ke dusun memangkur sagu. Mereka pergi memangkur sagu di dusun milik mereka dengan mendayung perahu. Biasanya pergi pagi pulang malam. Kali tempat mereka mancing pun jauh dari kampung, pergi pagi pulang malam. Biasanya kali itu dekat dengan dusun mereka.

Umumnya masyarakat di sini, termasuk anak-anak, minum air mentah yang langsung diambil dari sumur atau mata air di bawah pohon sagu. Mereka makan sayur mentah, juga pucuk muda daun sagu.

Mereka sangat suka hujan. Anak-anak akan bersorak girang bila hujan turun, perasaan mereka begitu bahagia sebab mereka akan mandi hujan, tiduran di lumpur, saling melempari lumpur dan kejaran dalam hujan.

Mereka akan terus bermain atau beraktivitas di luar rumah meski hujan turun, seakan-akan tak ada hujan. Bayi yang belum berusia sebulanpun dimandiin hujan oleh ibunya. Di bawah pancuran atap rumah sang ibu membawa bayinya menikmati air hujan yang mengalir sambil melantunkan nyanyian. Kabarnya, sang ibu memperkenalkan bayinya kepada leluhur, moyang dan alam.

Anak laki-laki punya kebiasaan tidak pakai baju siang hari, kecuali ada kegiatan resmi seperti ke gereja, sekolah atau acara adat. Sejauh ini saya tak pernah dengar kabar mereka sakit demam atau masuk angin. Paling cuman batuk pilek itupun tidak membuat mereka menghindari hujan atau memakai baju saat bermain siang hari.

Yah, begitulah ceritaku dari Kampung Katage, Mappi, Papua. Salam sejuta rawa dari pedalaman Papua, mak.

*Surat ini saya tulis buat mantan dosen pembimbing akademik, Yuseva Wardhana. Sebelum ke Mappi saya pamit dengan beliau di kampus Sanata Dharma. Ia memberikan saya majalah Bobo kepunyaan Aruna, anaknya. Semasa kuliah kami memanggilnya emak.

Dedi Lolansolot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 4 = 4