Pemuda Papua dalam sistem pertahanan negara

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistem Pertahanan menjadi hal yang sangat fundamental. Sistem pertahanan merupakan faktor utama  bagi eksistensi sebuah negara.

Jika sebuah negara tidak mampu mempertahankan dirinya terhadap berbagai ancaman yang datang dari dalam dan luar negeri artinya negara tersebut gagal dalam mempertahankan eksistensi.

Indonesia memiliki sistem pertahanan yang disusun dengan mempertimbangkan berbagi faktor dalam perkembangan lingkungan strategis serta kondisi geografis, politik dalam dan luar negeri, kebudayaan, keadaan ekonomi dan kehiduapan sosial dalam negara.

Sistem pertahanan Indonesia merupakan sistem pertahanan semesta. Secara harfiah, sistem pertahanan semesta merupakan sistem yang melibatkan seluruh warga negara Indonesia sesuai dengan peran dan fungsi yang pelibatan tersebut didasari dengan nilai cinta akan tanah air.

Pertahanan Indonesia yang dibukukan dalam buku putih pertahanan Indonesia tahun 2015 menyebutkan bahwa sistem pertahanan semesta memiliki 3(tiga) ciri utama, yaitu : Kerakyatan, Kesemestaan, dan kewilayahan yang melibatkan seluruh komponen.

Pertahanan negara Indonesia diselenggarakan dalam suatu sistem pertahanan semesta. Bentuk pertahanan yang dikembangkan melibatkan seluruh warga negara, wilayah, segenap sumber daya dan sarana prasarana nasional, dipersiapkan secara dini oleh Pemerintah, serta diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut.

Terdapat 3 komponen dalam sistem pertahanan negara, yaitu : Komponen utama, Komponen cadangan dan Komponen pendukung.

Sedangkan ancaman sendiri terbagi di dalam 3 spektrum yaitu ancaman militer dan ancaman nir-militer serta ancaman hibrida (perpaduan antara ancaman militer dan nir-militer).

Jika ancaman yang datang adalah ancaman militer maka yang menjadi komponen utama untuk menghadapi ancaman tersebut adalah militer dan yang menjadi cadangan adalah non-militer.

Sedangkan, jika ancaman yang datang adalah ancaman nir-militer maka yang menjadi komponen utama adalah non-militer dan yang mendukung adalah militer.

Dalam ciri pertahanan negara Indonesia yang kesemestaan tentunya sistem pertahanan Indonesia melibatkan  Pemuda sebagai Agent Of Defence.

Jika diamati kecendurangan ancaman dewasa ini merupakan ancaman unconventional, dimana ancaman non-militer lebih cenderung terjadi dibanding ancaman militer seperti perang langsung yang terjadi pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Perkembangan Industri 4.0 juga telah merubah dimensi ancaman Cyber, perang dilakukan di dunia maya dengan menggunakan teknologi sebagai senjata utama. Hal ini mendorong pendidikan bela negara untuk terus dilakukan di berbagai lapisan masyarakat, terutama bagi pemuda.

Generasi milenial atau disebut sebagai generasi Y adalah generasi yang lahir pada tahun 1980 hingga 2000, sehingga yang disebut sebagai generasi milineal saat ini ada di kisaran umur 19 – 38 Tahun.

Jika dibandingkan dengan beberapa generasi sebelumnnya Gen X, Boomer, dan Silent. maka generasi milenial memiliki kecenderungan yang unik. Keunikan generasi ini adalah lebih tertarik dengan penggunaan internet dalam mengakses Informasi dibandingkan dengan media lainya.

Hal ini mengakibatkan generasi hari ini berada dalam ruang “melek teknologi”.
Hal tersebut membawa sebuah berita positif bagi Indonesia bahwa dalam hal teknologi pemuda Indonesia tidak perlu diragukan lagi.

Tetapi disisi lain, penggunaan teknologi yang cukup masif dan kemudahan dalam mengakses informasi yang belum dapat dipastikan kebenaran dapat mengantarkan pengguna teknologi untuk menjadi ancaman bagi negara.

Generasi Y atau yang penulis sebut sebagai generasi melek teknologi ini bukan hanya di berada di daerah yang memiliki sinyal baik tetapi juga berada di daerah terpencil di Indonesia.

Salah satu provinsi yang saat ini menjadi perhatian di Indonesia adalah Papua.

Pemuda Papua hari ini pun banyak yang menjadi korban dari revolusi teknologi.

Penulis mengamati bahwa kemudahan dalam mengakses informasi membuat banyak sekali dari pemuda yang mengakses informasi tanpa mengetahui kebenarannya dan langsung menyebarkan sehingga menimbulkan konflik vertikal antara pemerintah dan masyarakat serta konflik horisontal antara masyarakat dan masyarakat.

Hal ini harus menjadi perhatian semua element masyarakat terutama pemuda Papua sebagai masa depan Indonesia Timur.

Sistem Pertahanan Indonesia yang berbentuk semesta telah mengantarkan semua element masyarakat termasuk Pemuda Papua sebagai komponen cadangan dalam sistem pertahanan negara sehingga perlu adanya kesadaran untuk menjaga pertahanan negara.

Menjadi bagian dalam sistem pertahanan negara tidak untuk memegang senjata dan ikut berperang bersama militer.

Kesadaran menjadi bagian dalam sistem pertahanan negara bisa di lakukan melalui dengan tidak menyebarkan berita tanpa mengetahui kebenaranya, menjaga hubungan yang baik antara masyarakat dengan pemerintah serta masyarakat dengan  masyarakat, membagikan pesan perdamaian untuk menciptakan suasana damai, menuntaskan pendidikan dan berkarya bagi tanah air, mendukung program pemerintah dan memberikan saran dan kritikan secara bijak jika ada program pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Membangun masa depan Pemuda Indonesia khususnya Papua tidak dapat dilakukan dengan menunggu apa yang pemerintah akan kasih dan programkan untuk Papua.

Membangun masa depan Papua dimulai dari kita, kita membangun kapasitas diri kita dan menjaganya tetap berkualitas untuk masa depan yang berkelas.

Sa Papua, Sa juga bagian dari Sistem Pertahanan Negara.

Penulis adalah Steve Rick Elson Mara, Mahasiswa S2 Universitas Pertahanan Negara, Fakultas Keamanan Nasional, Program Studi Damai dan Resolusi Konflik.

Penulis adalah mantan ketua BEM STIH Umel Mandiri Jayapura 2015-2016 dan saat ini penulis menjabat sebagai Ketua Pemuda LIRA Provinsi Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

66 − 56 =