Coretan pena sang pendidik di ujung timur nusantara

Untukmu Bapak Nadiem Makarim. Tidak pernah terlintas dibenak sebagai seorang guru muda ketika harus menerima SK tugas di kampung sejuta Ikan Gastor dan Betik. Seperti apa kampung itu? Kampung itu jauh, terbelakang, terisolir, ter, ter semuanya kata mereka…..

Jum’at, 16 November 2018.

Bertolak dari Distrik Asgon (Asue Gondo) Kabupaten Mappi, Papua ke Distrik Kaibusene melewati Kali besar dengan menggunakan Ketinting atau perahu kecil dengan kapasitas penumpang 7 orang, setelah berangkat dari Merauke ke Asgon naik Kapal Kokonao selama 3 hari perjalanan melalui jalur sungai yang berkelok-kelok.

Apele…., sedikit dialek Papua Animha. Perjalanan yang cukup jauh bertemu dengan gastor yang melompat masuk ke ketinting, bertemu dengan tebu rawa yang cukup menguras tenaga untuk dilewati…

Apele…., perjalanan kurang lebih 5 jam mama…., baru bisa melihat kampung tetangga, sebenarnya tidak berputar jauh tetapi musim kemarau kalinya kering sehingga ketinting tidak bisa melewati kali potong okor, maka Asgon menjadi jalur satu satunya.

Lima jam sudah perjalanan dan bunyi mesin yang ingin memecahkan telinga…

Akhirnya gapura tepatnya di pelabuhan Kaibusene mulai nampak. Air mata mulai pelan-pelan jatuh terurai entah apa yang membuatnya jatuh tetapi air mata seolah tak mau kering.

Di sini kehidupan nyata yang berbanding terbalik dari di kota-kota atau pun desa-desa lainnya dapat ditemukan. Di sini, kampung kecil dengan suasana nyaman, aman, damai tenang, sunyi dan sepi.

Kemana masyarakat? Ke hutan mencari gaharu dan makanan. Pele…., jadi anak sekolah dorang dibawa semua ke hutan….? Dimana aktivitas persekolahannya???

Bah…., guru cuma seorang diri saja di tambah 1 honorer sekolah yang harus mengajar 100 sekian siswa mengharukan! Dimana letak sekolahnya? Kurang lebih 500M dari sini Bu.

Pele…., yo mari sudah coba kita ke sana. Sio, ya Tuhan air mata harus mengalir lagi, kenapa??

Ada 6 tingkatan kelas dan cuma ada 3 ruangan. Ya itu nyatanya. Bagaimana pembelajaran tiap hari? Digabungkan, kelas 1 & 2, 3 & 4, 5 & 6. Bayangkan 2 orang guru harus menangani 6 kelas dalam 3 ruangan.

Apa yang anak didik dapatkan?? Bagaimana nasib generasi berikutnya kalau seperti ini???

Belum lagi ketika guru ada urusan di kabupaten, anak didik mau tidak mau harus diliburkan. Belum lagi gurunya pergi dengan alasan urusannya berbulan bulan, siapa yang mau mengajari mereka?

Pertanyaannya, mau tidak mau anak-anaknya berkeliling ke hutan tinggal di lokasi tempat mencari makan dan gaharu mengikuti orangtua mereka.

Nota tugas nomor : 814.1/2156. a/n Diana Cristiana Da Costa Ati, S.Pd bertempat tugas di Kampung Kaibusene, Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Papua, apa yang anda buat selama 2 tahun dalam kurun waktu yang singkat untuk memajukan pendidikan di Mappi sebagai seorang GPDT???

Kadang saya dan 2 orang teman guru GPDT, Antonius Tampani dan Indah Rovitha Meyok menghabiskan makan malam kami dengan berdiskusi singkat rasanya tidak pernah menyangka masih ada kehidupan seperti ini di era reformasi ini, salah siapa?
Menggelengkan kepala dan menarik napas panjang itu yang bisa kami perbuat.

Nyatanya anak-anak Kaibusene tidak bodoh, semuanya bisa hanya ibaratnya pisau belum di asa maka belum tajam.

Anak-anak….., ko pu cita-cita apa?
Jawab mereka: Sa mau jadi dokter, polisi, tentara, guru, suster dan pastor. Sio, ko rajin belajar di sekolah, ko datang ke ibu pu rumah baca buku sore-sore, ko pasti bisa yang jadi Ko mau.

Jauh dari anak-anak seumuran yang di kota, ketika ditanya mau jadi apa nanti? Mau jadi power rangers, batman dan lain-lain.

Ya Tuhan…., mimpi itu LUKA.

11 Januari 2019

Hal paling aneh di republik ini adalah ketika seorang PNS tidak menjalankan tugasnya bertahun-tahun pun tidak di pecat, memakan Dana Bos besar-besaran karena dirinya beranggapan Bos, tidak di tindak lanjuti perbuatannya padahal bukti fisiknya jelas mengatakan orangnya bersalah lalu mengapa semuanya diam dan membisu?

Kita memelihara generasi perusak masa depan bangsa, akankah ini berakhir atau berlanjut? Pertanyaan refleksi untukmu yang terhormat, sampai kapan? Beratus-ratus juta hingga Milyaran uang negara untuk bantuan pendidikan di makan hingga tak tersisa yang tersisa hanya bangunan yang berpuluh-puluh tahun yang layaknya gudang atau kandang babi harus ditempati untuk menuntut ilmu, inikah Indonesia???

Ini budaya yang sudah terjadi sebelum atau sesudah Mappi menjadi kabupaten baru, pemekaran dari Kabupaten Merauke. Mau dibawa kemana kalau budaya seperti ini tidak di basmi? Jangan harap pendidikan yang sejahtera, anak didik ke sekolah tanpa menggunakan seragam, mereka layaknya berpakaian untuk ke hutan tetapi mereka memakainya ke sekolah.

Duduk belajar dibahwah lantai tanpa kursi, mau pakai kursi duduk kursinya patah, mau tulis di meja tetapi saat tulis mejanya bergoyang. “Ibu guru kami takut patah mejanya,” kata seorang murid. Mau beli kursi, para kepala sekolah kelola Dana Bosnya tidak jelas pemakaiannya. Lalu kenapa Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi selalu mengiyakan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) yang dibuat oleh kepala sekolah sedangkan pemakaiannya tidak sesuai?

Apa ada campur tangan orang dalam dan pejabat sekolah? Wah gawat sangat disayangkan. Apapun yang mereka gunakan yang penting mereka mau menuntut ilmu, mau salahkan siapa? Inilah Mappi.

Sekolah ditutup berbulan-bulan bahkan tahunan. Guru-guru ke kota dengan alasan mengurus Data Pokok Peserta Didik (Dapodik) dan dana BOS, habiskan dana bos di kota lalu ke kampung buka sekolah untuk UJIAN NASIONAL.

Itulah Mappi, kebanyakan sekolah dijuluki sekolah UJIAN. Anehnya lagi, sewaktu Ujian Nasional setiap Siswa dipungut Rp500 ribu/oang, entah untuk apa itulah yang terjadi di Kampung Kaibusene sejak beberapa tahun terakhir.

Dalam suatu diskusi singkat dengan salah satu masyarakat di kampung, “Ibu guru tolong pada saat ujian jangan dibayar lagi eee nanti sa pu anak tra bisa ikut ujian lagi,” kata seorang ibu dengan memelas.

Saya mengelus dada dan berkata Tuhan. Mace (ibu), siapa yang bilang ujian itu bayar? Kita wajib belajar 9 tahun itu gratis Mace, tra ada pungutan liar begitu. “Bah ibu guru…. baru selama ini kami bayar pas ujian mahal-mahal itu apa?

Pendidikan mematikan masyarakat namanya, bayangkan saja kalau dalam rumah 3 sampai 4 anak yang ikut Ujian Nasional sudah berapa biaya yang dikeluarkan tutur salah satu orang tua murid kelas 6, dengan susah payah orangtua mencari biaya tersebut agar anaknya bisa mendapat ijazah di bangku sekolah dasar, pejabat sekolah kenyang dengan perbuatannya.

Sungguh kejam!!!!…

Ya, wajar dijuluki demikian sebab dibuka pada saat ujian, waktu ujian guru mencari murid di hutan. Lucu, aneh, mengharukan tapi ini fakta. Lebih disayangkan lagi bangunan sekolah dan fasilitasnya sangat mengharukan, layaknya sebuah kandang.

Ow…,Mappi. Uang dan uang suatu saat akan membunuh generasimu.

Ini mau salahkan siapa? Ini masalah butuh solusi, solusi apa?
Bupati Mappi yang baru terpilih Rito Agawemu, salah seorang pemimpin muda yang punya gebrakan untuk memajukan pendidikan di daerah ini. Beliau seorang pemimpin yang tegas, kurang lebih 1 tahun yang lalu mendatangkan kami, GPDT yang direkrut oleh Universitas ternama di Indonesia yaitu UGM.

GPDT hadir atas kerjasama gugus tugas papua UGM dan Pemkab Mappi untuk membasmi pelan-pelan virus buta huruf di Mappi. Apakah 2 tahun cukup? untuk itu saya menulis cerita singkat ini kepada bapak-bapak berdasi yang terhormat yang duduk di Mama Kota Negara (Jakarta,red).

Cobalah sesekali ke Papua tepatnya Kabupaten Mappi, Distrik Haju, Kampung Kaibusene.

Untukmu, Bapak Menteri Pendidikan yang baru kami sangat menantikan program kerja nasional untuk mencerdaskan anak-anak di pelosok negeri ini, di daerah tertinggal, terbelakang, terisolir dan ter… ter lainnya…..

Indonesia bukan hanya Jawa dan lainnya. Kami pun Indonesia. Seperti kata pak Surya Paloh, “Saya mau lihat Indonesia yang seutuhnya,”

Untukmu Bapak Surya Paloh,…”Saya seorang guru yang mengagumi sosok pemimpin seperti dirimu, semoga suatu saat nanti saya bisa bertemu Bapak,” salam hormat dari Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) Kabupaten Mappi, Propinsi Papua.

Diana Cristiana Da Costa Ati, S.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 43 = 45