Berdoa untuk Tanah Papua

Hari-hari ini kami ikut berduka atas wafatnya saudara-saudara kami di Tanah Papua, khususnya di Wamena dan Jayapura.

Kekerasan dan korban meninggalkan kesedihan di tengah-tengah keluarga besar. Luka yang sulit disembuhkan dalam hitungan hari. Semua itu menodai relasi dan harmoni sosial yang telah kita bangun di Tanah Papua ratusan tahun.

Selama ini kita hidup di Papua saling hormat-menghormati dalam ikatan kekeluargaan. Kita semua saling membutuhkan.

Keluarga dari rantau sangat bermakna dalam kehidupan ekonomi dan menjalankan pelayanan dasar. Ketiadaan keluarga rantau dapat membuat kesulitan kita untuk berkembang.

Kita memahami situasi Papua kompleks yang dilihat dari semua dimensi. Ada sisi struktural pembangunan yang harus diperbaiki. Sisi kultural di tengah modernisasi yang berubah. Adaptasi kita di Papua yang berbeda-beda.

Sisi politik lokal yang belum disentuh akar persoalannya. Ada rasa ketersisihan dalam persaingan yang berat. Ada pula kebijakan Negara yang belum utuh dalam menyelesaikan soal-soal Papua.

Semua faktor saling tali temali dalam setting geo-politics global yang dinamis yang terkait dengan politics of Papua.

Saat ini momen yang tepat untuk Negara (DPR, DPD, Yudikatif dan Eksekutif) untuk menulis ulang perihal bagaimana mengelola Papua dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Dari sebuah puzzle perencanaan pembangunan, Pemerintah (Bappenas) telah memulai untuk menulis ulang sentuhan apa yang tepat untuk Tanah Papua. Kita berusaha “Menghindari Modernisasi yang Keliru”, sebagaimana catatan dari Kaka Manuel Kaisiepo. Banyak hal yang harus kita tata kembali, baik di pusat, provinsi, kabupaten dan kota hingga bahkan distrik dan kampung.

Masih banyak puzzle lainnya yang harus kita semua susun untuk memperoleh wajah baru Tanah Papua.

Teringat Bapak Presiden Joko Widodo ketika menyampaikan Visi Indonesia pada 14 Juli 2019. Beliau menyerukan:

“Kita harus menyadari, kita harus sadar semuanya bahwa sekarang kita hidup dalam sebuah lingkungan global yang sangat dinamis! sangat dinamis! Fenomena global yang ciri-cirinya kita ketahui, penuh perubahan, penuh kecepatan, penuh risiko-risiko, penuh kompleksitas, dan penuh kejutan, yang sering jauh dari kalkulasi kita, sering jauh dari hitungan-hitungan kita. Oleh sebab itu, kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah-masalah yang kita hadapi dengan inovasi-inovasi.

Dan kita semuanya harus mau dan akan kita paksa untuk mau. Kita harus meninggalkan cara-cara lama, pola-pola lama, baik dalam mengelola organisasi, baik dalam mengelola lembaga, maupun dalam mengelola pemerintahan. Yang sudah tidak efektif, kita buat menjadi efektif. Yang sudah tidak efisien, kita buat menjadi efisien”.

Pernyataan Bapak Presiden Joko Widodo mengajak kita semua untuk berpikir di luar kebiasaan (thinking outside the box) untuk mencari solusi Papua.

Mari kita mencari model baru, cara baru dalam mengelola Papua, termasuk merumuskan inovasi asimetrik baru untuk Tanah Papua, sejalan dengan Visi Indonesia yang diserukan Bapak Presiden Joko Widodo pada 14 Juli 2019 lalu. Mari kita doakan kiranya nilai kedamaian dan kemanusiaan selalu hadir di Tanah Papua.

Bandung – Jakarta, 27 September 2019

Oleh Dr. Velix Wanggai, MPA

Direktur Daerah Tertinggal, Transmigrasi dan Pedesaan Bappenas RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 7 = 1