PGGPI Papua gelar rapat koordinasi dengan pimpinan gereja se-Papua

Pdt MPA Mauri (kiri) dan Mathan Ayorbaba (kanan) berikan keterangan pers usai rakor.

Papuaunik, – Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGGPI) Papua gelar rapat koordinasi (rakor) dengan pimpinan gereja se-Papua di salah satu hotel ternama di Kota Jayapura.

Ketua PGPPI Papua yang juga PGGP, Pdt. M.P.A Mauri, S.Th mengatakan tujuan rakor yang dilaksanakan pada Rabu (18/9) siang itu ingin mengimplementasikan seruan Gubernur Lukas Enembe agar gereja-gereja mendoakan tanah Papua secara umum, dan Papua secara khusus. Bahkan yang ada di Kota Jayapura.

PGPI Papua, kata dia, mengambil inisiatif untuk membuat rakor dengan berbagai denominasi gereja. Tujuannya, implementasi himbauan gubernur papua untuk Doa dan Puasa.

“Kita mengerti bahwa kita punya kekuatan diluar firman Tuhan seperti ada Dozzer untuk meratakan gunung, ada dinamit untuk bongkar gunung, tapi doa dan puasa melampaui hal itu semua,” katanya.

Doa dan puasa, kata dia, adalah bukan umat kristiani saja, tapi seluruh umat Tuhan seturut agamanya masing masing. “Dalam rakor telah menghasilkan diantaranya kami telah susun jadwal dan menentukan tempat dan pokok doa penting untuk didoakan,” katanya.

“Bukan hanya untuk Kota Jayapura, tapi rapat ini untuk Kota Jayapura dan Kabupaten lainnya di Provinsi Papua. Kami akan beraudiens dengan Gubernur Papua dan melaporkan hal ini,” katanya.

Ia menyebutkan aksi doa dan puasa itu akan dimulai pada 27 September 2019 dan segera dosialisasikan. “Setelah Kota Jayapura, lalu kami akan pindah, ke Sentani, masuk ke Pemprov Papua, DPR Papua dan TNI/Polri. Kita harus fokus ke tempat ini utnuk berdoa bersama. Kami akan berpinah pindah tempat sesuai dengan jadwal. Pokok Doa intinya untuk kedamaian di tanah Papua,” kata Mauri.

Sementara itu, Sekretaris PGGPI Mathan Ayorbaba mengatakan tema doa dan puasa yakni pertobatan dan pemulihan umat Tuhan di atas tanah Papua. “

“Kami mengharapkan apa yang sudah putuskan ini bisa dieksekusi oleh semua gereja-gereja di tanah Papua dan semua lembaga agama, karena kami juga berencana agar supaya ada doa secara massal,” katanya.

“Pukul 12 siang untuk seluruh tanah Papua, siapapun dia agama apapun dia, kita semua berhenti dan berdoa 1 menit saja, kita harap ini bisa menjadi suatu peraturan Gubernur Provinsi Papua, sehingga semua orang bisa berdoa jam 12 untuk pemulihan Papua,” katanya lagi.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 1