“Fenomena Kata Monyet”

Fenomena kata monyet pada 17 Agustus 2019 yang ditujukan kepada mahasiswa Papua di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur yang dilakukan oleh salah satu ormas sungguh menyayat hati orang asli Papua (OAP) di tanah Papua, tetapi konteks yang harus dilihat disini adalah konteks sebab akibat.

Ormas dan masyarakat di Surabaya tentu bisa mengeluarkan bahasa “monyet” karena sudah terbakar emosi, katanya sih karena ada oknum mahasiswa Papua yang mematahkan tiang dan bendera merah putih hingga jatuh ke tanah, maksud saya disini adalah mari kita melihat proses permasalahan ini secara obyektif dan subyektif, kita OAP ini punya harkat dan martabat dan juga kepintaran, yang tentu sangat dibutuhkan oleh negara ini.

Aparat penegak hukum dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia sudah pasti akan melakukan penyelidikan tentang hal ini, kita sebagai OAP jangan mudah terprovokasi, jangan mudah terpancing, jangan mudah emosi, sebab isu “monyet” sudah dipolitisasi di plintir sedemikian rupa oleh kelompok – kelompok yang bertentangan dengan Negara dan Pemerintahan.

Sudah tentu kita pasti marah dengan kata – kata seperti itu, tetapi yang harus diingat …!!!, kita adalah manusia, dan bukan monyet, yang bilang monyet kan cuma segelintir orang dari ormas di Surabaya, bukan seluruh warga Surabaya dan seluruh warga Indonesia.

Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia, jadi saya mohon juga kepada teman – teman , saudara – saudara sekalian yang bermain Media Sosial tidak membuat kegaduhan lagi dengan berkomentar yang berlebihan, dengan postingan yang emosional sampai meghina warga masyarakat lainnya, jangan seperti itu.

Ingatlah bahwa jangan termakan isu sebab manusia Papua itu harus cerdas dan penuh kasih seperti pribadi Yesus Kristus. Kita di Papua ini mayoritas Nasrani, ajaran Nasrani yang nomor 1 adalah hal kasih, saya mengutip dari GALATIA 5 : 14 yang berbunyi ” SEBAB SELURUH HUKUM TAURAT TERCAKUP DALAM SATU FIRMAN INI YAITU “, KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA SEPERTI DIRIMU SENDIRI”, ayat ini berasal dari Alkitab, mari belajar menjadi pribadi yang saling mengasihi sesama manusia, dan mari berpikir secara logis, karena monyet tidak bersekolah, monyet tidak kuliah, monyet tidak berpolitik, monyet tidak berdemonstrasi, monyet tidak bermain media sosial.

Jadi teman – teman semua jangan karena isu monyet yang telah dipolitisasi dan diplintir sedemikian rupa, trus kalian mau menambah dan memperkeruh situasi dan suasana menjadi panas, apa lagi saya lihat hampir seluruh postingan di semua media sosial dari kemarin sampai sekarang hanya ucapan Dirgahayu Republik Indonesia ke – 74 dan isu “monyet”.

Negara ini adalah negara hukum, biarlah aturan yang berbicara, toh kalau kita keberatan terhadap kata – kata itu, silakan melalui mekanisme yang ada , mari belajar jadi cerdas, dan bermartabat, jangan tambah membuat panas situasi, ingatlah bahwa masalah Rasial adalah masalah yang sangat sensitif, ingat tragedi Sampit, di Kalimantan antara suku Madura dan suku Dayak, berakhir dengan korban yang banyak, anak – anak kecil jadi korban, ibu hamil jadi korban, orang tua korban, anak – anak korban, kerabat berduka, kamu tra pikir itu kah….???

Kamu jangan bicara gampang mengadu domba , tapi kalau terjadi “chaos” kamu dimana? Kamu lagi berdiri didepan boleh, jangan berkoar – koar dimedsos, sampai ajak demo damai, padahal demonya sudah dipolitisi oleh kelompok – kelompok yang bersebrangan dengan negara, silakan kalau yang mau demo besok, tapi ingat kalau kamu gagal di negeri ini jangan salahkan pemerintah.

Ingatlah bahwa Pemerintah adalah wakil Tuhan dibumi saya akan kutip ROMA 13 : 1 – 7 yaitu : Baca: Roma 13:1-7

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13:1

Orang Kristen sejati adalah orang yang benar-benar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, menjadi pelaku firman. Salah satu wujud nyata kita terhadap kehendak Tuhan adalah taat kepada pemerintah.

Mengapa kita harus taat kepada pemerintah? Sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Tuhan (ayat nas). Tuhan menetapkan pemerintah-pemerintah di atas muka bumi ini dengan maksud agar manusia hidup secara tertib dan teratur. Dengan kata lain pemerintah adalah wakil Tuhan di bumi.

Jadi tujuan utama Tuhan mendirikan pemerintah-pemerintah sesungguhnya adalah demi kepentingan manusia itu sendiri. Maka dari itu Tuhan tidak menghendaki umat-Nya menentang, memusuhi atau melawan pemerintah yang sedang berotoritas, sebab “…barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.” (ayat 2).

Kita tidak perlu takut kepada pemerintah asal kita hidup sesuai aturan-aturan yang ada, melakukan hal-hal yang baik, “Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat.” (ayat 3a). Perhatikan firman Tuhan ini! “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” (ayat 5).

Apa maksudnya? Seringkali suara hati kita sudah memeringatkan bahwa apa yang kita perbuat adalah sebuah pelanggaran terhadap Tuhan atau pemerintah, namun kita tetap saja melakukannya. Ini pertanda kita tidak takluk kepada suara hati kita. Jika suara hati mengatakan sesuatu dan kita melakukannya, artinya kita takluk kepada suara hati kita.

Suara hati yang dipimpin oleh Roh Kudus pasti akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya jika orang cenderung melakukan hal-hal yang jahat seperti korupsi, tidak taat membayar pajak, menyuap atau menerima suap, mencuri aliran listrik/air dan sebagainya, bisa ditebak sendiri bahwa hati orang itu tidak dipimpin oleh Roh Kudus, melainkan dipimpin oleh roh jahat.

Taat kepada pemerintahan berarti kita menghormati ketetapan Tuhan!
Taat kepada Pemerintah berarti kita menggenapi maksud daripada firman Tuhan!

Damai Indonesiaku
Damai Papuaku

Oleh : Ali Wanggai Kabiay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 12 = 19