Para tokoh adat dan pemuda Jayapura sikapi persoalan intimidasi dan rasis

Suasana pertemuan para tokoh adat dan pemuda di Kabupaten Jayapura, Papua.

Papuaunik, – Para tokoh adat di Kabupaten Jayapura, Papua menyikapi persoalan intimidasi dan rasisme yang dihadapi mahasiswa asal Bumi Cenderawasih di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

Bertempat di pendopo adat ondofolo Ondikleuw Halenfoitewe, Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin sore para tokoh yang hadir itu diantaranya Ondofolo Kampung Sereh Yanto Eluay, Ondfolo Kampung Sosiri Boas Enok, Onfofolo Kampung Puay Jack Fiobetauw, Maurits Felle kepala suku Kampung Yobe dan Philipus Deda Sekretaris Dewan Adat Suku Sentani (DASS).

Lalu, Ketua HIPMI Kabupaten Jayapura David Suebu, Ketua GMKI Kabupaten Jayapura Berto Tungkoye, Ketua Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Jayapura Ridha Fadli, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Jayapura Muzni, Bendahara KNPI Kabupaten Jayapura Simon Petrus
, dan Perwakilan Pemuda Muhamadiyyah Kabupaten Jayapura Maulana.

“Bangsa kita sedang mengalami perpecahan dan seluruh elemen masyarakat harus menyikapi permasalahan yang berkembang. Kabupatem Jayapura termasuk wilayah adat kami, untuk kami menghimbau untuk tidak melakukan aksi yang kurang berknena agar dapat menjaga kondusifitas dan persatuan diantara masyarakat papua,” kata Yanto Eluay

Sebagai umat beragama, kata dia, harusnya mengedepankan cinta kasih, apalagi satu orang Papua memiliki 3 identitas yakni identitas adat, agama dan WNI. Rasisme muncul dikarenakan identitas adat dan merasa dikhianati oleh kata tersebut namun sebagai umat beragama harus memiliki kewajiban untuk saling memaafkan.

“Identitas sebagai WNI, kita memiliki kewajiban untuk menjaga kredibilitas
bangsa. OKP harus berdiri di depan untuk menjaga harga diri bangsa. Atas nama pemimpin masyarakat adat kami menghimbau kepada seluruh saudara kita, jangan mengganggu seluruh aktivitas di wilayah kami,” kata Yanto.

Boas Enok mengatakan demi mewujudkan kedamaian di Kabupaten Jayapura ada baiknya kepada seluruh masyarakat dari suku manapun agar tidak melakukan aksi anarkis yang dapat merugikan semua pihak.

“Mari kita menjaga rumah kita bersama, tanpa membedakan asal suku bangsa karena kita semua adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Demo atau aksi anarkis bukan adat dari masyarakat Papua, oleh karena itu kita harus merapatkan barisan dari pihak pemerintah, adat dan agama untuk menjaga NKRI,” kata Boas.

Senada itu Jack Fiobetauw mengatakan damai adalah impian semua pihak dan bermanfaat bagi umat manusia terutama yang menetap di Kabupaten Jayapura. Oleh sebab itu, menjaga perdamaian adalah kewajiban bersama.

“Jangan mudah terprovokasi atas isu-isu yang berkembang, khususnya isu rasisme. Kita sebagai masyarakat di Jayapura harus dapat berpikir positif karena permasalahan tersebut sudah ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang,” kata Jack.

Simon Petrus mengajak kepada masyarakat Kabupaten Jayapura untuk menjaga perdamaian dan kondusifitas.

“Kami juga menghimbau kepada aparat penegak hukum untuk segera mengungkap pelaku agar tidak meresahkan masyarakat Papua dan kita harus saling bekerja sama untuk membangun Papua,” kata Simon.

Sementara itu, Muzni menyampaikan isu rasisme merupakan isu sensitif yang akan menyinggung kelompok tertentu.

“Kita harus dapat menjaga ketertiban dan keamanan sehingga kita dapat menjadikan Kabupaten Jayapura sebagai rumah bersama bagi segala suku bangsa,” kata Muzni.

Ridha Fadli dan Maulan mengimbau agar setiap warga bisa menyamakan pemikiran atau pandangan untuk menolak segala isu yang bisa memecah bela persatuan dan kesatuan.

“Mari kita satukan pemikiran kita untuk menolak segala isu yang dapat memecah belah kita.Angkuh dan kesombongan hanya milik Tuhan, oleh karena itu kita tidak boleh angkuh dan sombong terhadap sesama manusia sehingga kita harus saling memaafkan antar manusia,” kata Fadli.

Sedangkan Berto Tungkoye meminta agar pelaku rasisme harus segera ditangkap agar dapat menjaga kondusifitas di wilayah Indonesia.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 5 = 4