200 pelajar Jayapura tatap muka dengan pejuang Papua Ramses Ohee

Papuaunik, – Sekitar 200 pelajar SMP dan SMK/SMA dari Kota Jayapura tatap muka dengan pejuang Papua Ramses Ohee yang juga pelaku sejarah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 di kediamannya batas kota, Waena, Distrik Heram, Rabu pagi.

Tatap muka yang mengusung tema “Peran Pemuda Dalam Mengawal masa depan Papua” itu juga dihadiri oleh sejumlah tamu undangan diantaranya Kapolres Jayapura Kota AKBP Gustav Urbinas, Dandim 1701/Jayapura Letkol Inf Yohanis Parinusa, Ketua LMR RI Papua Imam Syafe’i, pembina OKP GEMAPI Habelino Sawaki dan sejumlah tamu undangan baik para tokoh pemudan dan perempuan Papua.

Dalam acara tersebut, Ramses yang didampingi Jhon Norotouw berpesan kepada sejumlah pelajar yang hadir agar lebih giat belajar dan jangan cepat terprovokasi dengan berbagai isu yang tidak membangun.

“Isilah kemerdekaan ini dengan berbagai hal positif. Sambutlah HUT ke-74 Kemerdekaan RI ini dengan hal yang membangun,” katanya.

Bagi dia, sejarah Indonesia dan Papua sudah incrah, sah dimata dunia, sehingga tidak perlu diperdebatkan, apalagi banyak buku dan para pelaku sejarah yang bisa dijadikan referensi.

“Berpikirlah untuk maju, jangan mundur jauh kebelakang. Ingat, kami dulu berjuang pada jaman berbeda untuk memerdekakan Indonesia dan khususnya Papua. Jadi, banyak belajar dan isi masa pembangunan ini dengan karya yang baik untuk nanti anak cucu kita,” katanya.

Berkaitan dengan itu, Ramses yang merupakan anak dari Korano atau Kepala Kampung Asey Besar Distrik Sentani Onder Afdelling Hollandia, Poroe Ohee dan ibu Orpa Pallo Yochu, berharap pemerintah juga bisa lebih serius memperhatikan anak-anak muda asal Papua.

“Pemerintah juga harus lebih luas berikan kesempatan bagi pemuda Papua untuk berkarya diberbagai sektor, keberpihakan dan pemberdayaan perlu diberikan,” kata Ramse.

Sementara itu, salah satu pelajar SMK yang hadir dalam kegiatan tersebut mengaku bangga dan senang bisa mendapatkan wejangan atau nasihat dari pelaku sejarah di Papua.

“Senangnya dapat ilmu. Kebanyakan pemuda-pemudi Papua tidak tahu dan kenal sejarah tentang Papua, kami harapkan kegiatan ini bisa dilakukan secara berkesinambungan,” kata Grace.

Hingga berita ini dibuat, kegiatan tersebut masih berlangsung.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

21 + = 24