Refleksi Seorang Akademisi terhadap ‘Papua dan Solidaritas Sosial’

Dr Habib Idrus Al Hamid. M.Si

Saat bercerita tentang Papua, pasti setiap orang yang belum pernah ke Papua, mempunyai asumsi akan berbeda.

Gambaran yang belakangan ini tentang Papua selalu, memberikan Persepsi beragam, meskipun untuk itu harus kita riset klarifikasi.

Papua pada 2001 hingga 2019, telah mengalami perubahan sebagai akibat dari perhatian Pemerintah Pusat terhadap Pembagunan menyeluruh melalui UU Otonomi Khusus.

UU Otonomi Khusus untuk Papua, memberikan makna legitimasi terhadap putra dan putri asli Papua untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur, yang untuk itu kita tidak temui di Wilayah lainnya di nusantara dengan ke khususan tersendiri.

Proses interaksi dan interkoneksi antara masyarakat Papua dan kelompok etnis lainnya, terlihat sangat bersahaja, meskipun terdapat riak-riak sebagai akibat dari dinamika politik lokal saat pemilu baik legislatif maupun eksekutif.

Setiap orang yang ada di Papua selalu terbuka dan mampu beradaptasi dengan tranformasi kultur baru yang datang. Hampir dipastikan hubungan antara masyarakat Papua pesisir dengan etnis lainnya bersemi dalam pelataran akulturasi budaya dan ekonomi sub-sistem dari ekonomi global kapitalis Demagogi.

Program, percepatan pembangunan Papua dibidang Infrastruktur, Kesehatan dan Pendidikan di dukung oleh berbagai Peraturan Pemerintah, hingga pengadaan barang dan jasa pun diberikan keutamaan khusus bagi Provinsi Papua. Setidaknya, semua ini mampu membuat Provinsi Papua berkembang dan maju.

Hal lain yang dapat dilihat adalah SDA bumi Papua sangat memberikan manfaat yg besar terhadap penguatan SDM jika pemerintah daerah mampu memaksimalkan potensi yang ada.

Kalau diteliti, sumber keuangan daerah di Provinsi Papua dengan jumlah penduduk sedikit dan luas wilayah berbukit serta rawa, pasti akan berdampak terhadap perubahan yang sangat signifikan jika tidak terkesan ada bocoran dimana-mana.

Papua saatnya maju dan berkembang menata kembali prioritas program, khususnya di bidang Infrastruktur, Kesehatan dan Pendidikan.

Masyarakat Papua membutuhkan kebersamaan, tanpa harus ada sekat-sekat perbedaan. Dalam paradikma budaya dan agama, dapat dipahami bahwa masyarakat Papua menjadikan agama sebagai jati diri dan budaya merupakan harga diri.

Sehingga untuk itu masyarakat Papua mampu memberikan yg terbaik dalam memahami Kebinnekaan antar sesama etnis di Papua (baca, Konsep Satu Tungku Tiga Batu : Dr.Suparto Iribaram, 2019. Dosen IAIN Fattahul Muluk Papua ).

Refleksi dari sebuah sistem, dalam pranata sosial yang mengedepankan “Indah-nya hidup” bersama dengan saling berbagi dan menghargai tercermin dalam senyuman mama-mama Papua dahulu hingga sekarang. Kita di Ciptakan Tuhan mang berbeda, tetapi harus saling menghormati dan menghargai sesama.

Kalau kita pahami bahwa Papua tanah damai. Maka, setiap tindakan merefleksikan budaya santun bersendikan agama. Kita terlahir untuk selalu bersama, tidak benar kalau berbeda itu masalah, karena Tuhan tidak elok kalau kita salahkan. Hari ini kita bisa menjadi yang terbaik, mungkin karena ada kausalitas yang lain.

Saatnya menguntai karya monumental dalam peradaban umat Manusia. Problem saat ini di Papua, sesungguhnya adalah akumulasi dari sejumlah peristiwa masa lalu, harus kita refleksikan kembali.

Jangan pernah kita menghina kalau tidak ingin di hujat oleh yang lain, dan jangan pernah kita mengingkari kebaikan orang lain kalau tidak kita inginkan datangnya murka Tuhan yg maha kuasa, di atas segala kekuasaan yang ada.

Jum’at yang Agung, 23/ 08/2019.

By Si Hitam Manis Pelipur Lara di Bumi Cendrawasih ufuk Timur Indonesia.

Oleh Dr Habib Idrus Al Hamid. M.Si

Suara Minor Cendekiawan POROS INTIM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

56 + = 62