Kadinkes Papua minta tenaga analis sukseskan PON XX

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Papua drg. Aloysius Giyai meminta kepada para tenaga microsphis, analis dan laboratorium di unit pelayanan kesehatan didaerahnya agar berperan menyukseskan pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di provinsi tersebut.

“Tugas kita bersama adalah ikut menyukseskan agenda PON khusus di bidang kesehatan. Ada satu syarat bahwa minimal enam bulan sebelum PON, daerah yang ada venue PON harus bebas dari malaria. Mari kita kerja keras. Saya minta Januari harus sudah sampaikan ke saya biar saya sampaikan ke PB PON,” kata Aloysius di Jayapura, Sabtu.

Menurut dia, Dinas Kesehatan harus menjamin bahwa semua yang datang, baik itu atlit, pelatih dan official, aman dari penyakit malaria

Aloysius mengaku tengah menyampaikan hal itu kepada para tenaga analis ketika membuka Pelatihan Mikrosopis Tenaga Analisis/Labarotorium yang digelar Perdhaki Jayapura khusus tentang malaria di Balai Latihan Tenaga Kesehatan (Balatkes) Provinsi Papua, Padang Bulan, Abepura, Kota Jayapra, Senin (13/05)

Mantan Direktur RSUD Abepura itu juga meminta agar penanganan Malaria di Papua makin maju. Hal itu, tentu saja didukung juga oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) analis laboratorium.

“Tapi ingat, alat harus dikalibrasi. Kadang alat bodohi kita. Kadang kita periksa malaria di UPK ini tidak ada, nanti periksa di UPK lain ada. Mikrosopnya mungkin sudah rusak ka. Jadi sekali lagi alat harus dikalibrasi. Selain, manusianya terampil untuk menggunakan alat itu,” katanya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis AIDS, TB dan Malaria (ATM) Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Beeri Wopari mengatakan pihaknya terus memperkuat kabupaten yang menjadi tuan rumah PON seperti Kabupaten Jayapura, Keerom, Merauke, Timika dan Kabupaten Biak.

“Pada prinsipnya, pengendalian malaria tidak ada kiat-kiat baru. Yang paling penting respon dan gerak cepat kabupaten yang jadi tuan rumah PON. Untuk kabupaten yang kasus malarianya tinggi, kita butuh perhatian serius kepala daerah, tidak bisa hanya harapkan Dinas Kesehatan semata,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelatihan Mikrosopis Tenaga Analisis/Labarotorium Dorkas Dona ketika dikonfirmasi secara terpisah menyebutkan, sebanyak 17 analis hadir dalam pelatihan berasal dari sejumlah unit pelayanan kesehatan di Jayapupra, Kabupaten Timika, Nabire, Merauke, Asmat, Keppi dan Kabupaten Bouvendigoel.

“Kami pada prinsipnya mendukung PON dan kami berharap pemerintah bisa membantu menyediakan tenaga analis yang terlatih,” katanya. (MA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *