Kisah reporter TV berupaya selamat dari banjir bandang (Bagian 1)

Perumahan BTN Gajah Mada, Kelurahan Dobonsolo, Distrik Sentani, Kabupaten Jayaupura, Papua yang diterjang banjir bandang.

Papuaunik, – Sabtu malam, 16 Maret 2019. Mungkin itu malam terakhir Audy bersama istri dan dua anaknya merasakan bantal dan kasur yang empuk di rumahnya perumahan BTN Gajah Mada, Kelurahan Dobosolo, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Pesan singkat yang diterimanya dari sesama rekan wartawan, membuatnya harus segera mengungsikan keluarganya dari rumah yang dicicilnya lewat bank ternama.

“Ayo nak bangun. Bapak dapat SMS dari teman kalau hujan di Cycloop begitu besar,” katanya bercerita kepada rekan-rekannya sesama jurnalis di RS Bhayangkara, Kota Jayapura, Jumat pekan lalu.

Audy mengisahkan malam itu terasa lain dari malam-malam biasanya selama beberapa tahun terakhir tinggal di kompleks yang ternyata merupakan kawasan resapan air di kala hujan.

Tak menunggu lama, pakaian dan barang berharga langsung dilemparkannya ke bagian belakang mobil jenis minibus yang dibuat ‘ceper’. Satu persatu, kedua buah hatinya dan istri tercinta diboyong ke dalam mobil berwarna hitam itu.

Tak sempat dia mengambil salah satu HP yang sedang di cas-nya di dinding dekat televisi flat yang dibelinya secara kredit.

Sejumlah sepatu dan sandal baru yang berderet di rak tak jauh dari meja, juga dilupakannya, demi berpacu dengan waktu dan guyuran hujan deras.

“Saat saya keluar kompleks itu sudah agak malam tapi hujan deras, sunyi terasa. Mungkin warga lainnya sudah tidur atau pun juga sedang mengamati hujan,” katanya.

Pria keturunan Manado, Sulawesi Utara itu mengaku berdosa karena tidak sempat mengetuk tiang listrik, dikala hujan dan dugaan banjir akan menerjang.

Mobil dipacu dengan tenaga sedang ditengah malam kompleks perumahan yang kerap diterjang banjir, berupaya cepat ditengah air mulai meninggi.

“Saya lupa e. Saya berdosa sekali sama warga. Dalam pikiran saya, bagaimana bisa mengungsi secepatnya,” katanya dengan nada sedih.

Namun, pria yang mengawali karirnya sebagai ‘driver’ di salah satu perusahaan swasta yang bergerak dibidang pertelevisian di Kota Jayapura itu berharap warga BTN Gajah Mada bisa segera tanggap dengan situasi yang ada.

“Saya putar mobil kearah pasar baru, karena pasar lama air sudah mengalir seperti sungai. Keluar dari pasar baru Sentani, saya menuju kearah jembatan Tahara, namun disini banyak genangan air dijalan, orang juga banyak diluar melihat situasi,” katanya.

Dia mengaku gugup, karena mobilnya begitu rendah untuk melewati air yang datang bersama tanah bercampur pasir dan lumpur serta batu dan potongan kayu.

“Mobil ceper, saya takut air masuk mesin. Jadi sambil gas dengan setengah kopling, menerobos jalan yang penuh dengan air mulai meninggi…..Tiba-tiba wiper dan lampu mobil mati, untung bisa lewati jalan yang tergenang air dan bisa menepi,” katanya.

Setelah menepikan mobilnya dekat ruko di jalan utama Sentani-Jayapura, tak jauh dari jembatan Tahara, Audy mendapat info bahwa sejumlah rumah warga ada yang diterjang air, bahkan dikabarkan ada warga yang hanyut.

“Saya dapat info ada tiga warga yang meninggal pada malam itu. Saya tidak tahu kalau paginya hujan sebabkan banjir luar biasa ini menelan korban hingga seratusan lebih,” katanya dengan nada sendu.

Kisah Audy ini adalah sepenggal cerita yang disampaikannya kepada sesama rekan wartawan. Masih banyak cerita duka lainnya dibalik hujan besar yang sebabkan banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura yang menewaskan ratusan warga dan merusak fasilitas umum lainnya.

Audy juga mengungkapkan situasi terkini ditempat tinggalnya dan kompleks perumahan BTN Gaja Mada begitu memprihatinkan.

“Rumah saya kira-kira 3/4 nya terendam air dan pasir. Sudah begitu, plafon rumah saya dijebol, televisi dan alat rumah tangga lainnya dicuri, bahkan lampu rumah juga hilang,” katanya dengan nada heran.

Bersambung…..(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

42 − 34 =