Perkuat Peran Tiga Tungku

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise

Papuaunik– Sudah semestinya perempuan dan anak terlibat aktif dalam berbagai sektor pembangunan. Namun kenyataannya, kondisi perempuan dan anak di Indonesia masih jauh dari harapan.

Berbagai permasalahan yang mereka hadapi seperti kekerasan, baik fisik, psikis dan seksual menjadi faktor penghambat kontribusi mereka dalam pembangunan.

“Dewasa ini perempuan dan anak masih mengalami diskriminasi gender seperti peminggiran atau kemiskinan (marjinalisasi) subordinasi, pelabelan (stereotype), kekerasan dan beban ganda,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise disela Dialog bersama Persekutuan Gereja-gereja Papua (PGGP) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) wilayah Papua di Jayapura,Rabu (27/2).

Oleh karena itu, kata Yohana, untuk menghapuskan permasalahan tersebut, dibutukan sinergi dari seluruh pihak termasuk pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama dalam hal ini gereja.

Berdasarkan data laporan kasus kekerasan terhadap perempuan yang diterima Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada 2018, di Indonesia terdapat 10.078 kasus kekerasan baik fisik, psikis dan seksual.

Sedangkan menurut data Komnas Perempuan, pada 2017 angka kekerasan terhadap anak dan perempuan sebanyak 2.227. Jumlah ini meningkat dibanding 2016 sebanyak 1.799 kasus kekerasan.Menteri Yohana menambahkan perempuan dan anak memiliki potensi yang sangat besar untuk membangun bangsa ini. Oleh karenanya akses dan partisipasi mereka dalam berbagai bidang pembangunan harus diberikan.

Suasana dialog antara Menteri PPPA dengan PGGP dan PGI wilayah Papua

Perempuan juga harus diberikan kesempatan untuk melakukan kontrol terhadap proses pembangunan agar kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dapat terwujud dan pembangunan dapat berjalan dengan baik.

“Besar harapan agar kedepannya PGI, PGGP serta Tokoh Adat dapat menujukan kontribusinya dalam pelayan untuk melindungi kaum perempuan dari kekerasan dan memenuhi hak anak Indonesia. Sebab, kalau bukan kita siapa lagi yang akan melindungi mereka,” katanya.

Peran tiga tunggu ini merupakan komitmen kita bersama agar perempuan dan anak mendapatkan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan.

Pada kesempatan yang sama perwakilan PGI Wilayah Papua, Pendeta Siantury mengatakan akan mengajak dan mengimbau seluruh gereja agar berperan aktif dalam upaya perlindungan perempuan dan pemenuhan hak anak.

Menteri PPPA Yohana Yembise berpise bersama pengurus PGGP dan PGI wilayah Papua usai dialog

Pengembangan sistem perlindungan perempuan dan anak berbasis masyarakat akan diterapkan semaksimal mungkin,sehingga upaya pencegahan yang dilakukan dapat optimal sampai ke tingkat keluarga.

Sementara itu, Ketua PGGP Pendeta Maruli STh mengatakan di papua angka kekerasan terhadap perempuan dan anak memang cukup tinggi. Banyak faktor yang menyebakan hal tersebut, salah satunya kurangnya pendidikan dan kepahaman tentang menghargai perempuan dan anak.

“Untuk itu perlu ada evaluasi terhadap kasus-kasus yang terjadi di Papua khususnya. Agar kedepannya kita tahu apa langkah strategis yang diambil untuk mengatasi permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di tahan Papua ini,” katanya.

Sejak 2016 Kemen PPPA telah melakukan langkah strategis untuk menanggulangi permasalahan perempuan dan anak. Kemen PPPA memiliki program/kegiatan unggulan yang disebut Three Ends atau tiga akhiri yakni Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, Akhiri perdagangan manusia dan Akhiri kesenjangan ekonomi.(Ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *