Pemuda Gereja Siloam Waena Luncurkan ATM Buku

Pendeta Jemaat GKI Siloam Waena Yosina Rejauw sedang memasukan buku kedalam ATM Buku
(Foto : Papuaunik/Ms)

Papuaunik-Pemuda jemaat yang tergabung dalam persekutuan anggota muda (PAM) Jemaat GKI Siloam Warna, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua meluncurkan anjungan tunai membaca buku.

Papuaunik-Pemuda jemaat yang tergabung dalam persekutuan anggota muda (PAM) Jemaat GKI Siloam Warna, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua meluncurkan anjungan tunai membaca buku.

Peluncuran dilakukan oleh Pendeta Edison Sekenyap selaku Kepala Biro PAM GKI Sinode di tanah Papua bersama Pendeta Jemaat GKI Siloam Waena Yosina Rejauw yang ditandai dengan memasukan buku ke dalam ATM buku yang dibuat seperti mesin ATM milik bank.

Momentum peluncuran itu ATM Buku itu berlangsung dihadapan warga jemaat setelah pelaksanaan ibadah Minggu (10/2) pagi.

Pendeta Jemaat GKI Siloam Waena Yosina Rejauw kepada Papuaunik di Jayapura, Rabu, mengatakan ATM/anjungan tunai mandiri, itu mesin untuk menyimpan uang lalu ditarik oleh nasabah.

Namun, lanjut dia, ATM buku yang dilakukan oleh pemuda di jemaatnya adalah ATM untuk menyimpan buku lalu akan dibuatkan perpustakaan kemudian mengajak generasi muda usia sekolah untuk membaca tapi juga membagikan buku yang disimpan di ATM itu ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.

Seorang warga Jemaat GKI Siloam Waena memasukan buku ke dalam ATM Buku (Foto : Papuaunik/Ms)

“Kami memahami ATM buku ini dalam kaitan dengan program hasil keputusan sidang jemaat yang sudah diangkat oleh persekutuan anggota muda melalui sidang jemaat yang dilakukan pada Desember 2019,” kata Yosina.

Bagian yang dipikirkan disana, menurut dia, adalah soal pendidikan karena latar belakang dari Jemaat Siloam Waena berada ditengah-tengah kota pendidikan sehingga mayoritas anggota jemaat yang ada didalamnya hampir 80 persen itu anak-anak mahasiswa. Untuk itu, bagian dari ATM buku ini adalah terjemahan dari bentuk pendidikan yang lebih ril, yang menyentuh kehidupan warga jemaat.

“Jadi kita tidak berharap untuk mengumpulkan uang yang banyak atau memberi dalam bentuk uang, tetapi kita memanfaatkan apa yang ada pada kita berupa fasilitas-fasilitas buku-buku bekas atau yang sudah pernah dipakai. Bagi kami sayang untuk dibuang, dan sayang untuk disimpan, tetapi dapat dimanfaatkan untuk menolong anak-anak jemaat yang ada dalam usia sekolah didapati bahwa mereka tidak bisa membaca, itu yang kami coba untuk mengangkat program ini supaya lebih menyentuh pada setiap unsur-unsur jemaat, ” katanya.

Yosina mengatakan, dengan demikian pihaknya akan tahu anak-anak kategori apa yang ada di jemaat ini yang sudah bisa membaca atau yang memang belum bersekolah sehingga tidak bisa membaca.

“Sebagai majelis jemaat tapi juga sebagai pendeta jemaat disini kami memberikan dukungan penuh untuk aksi yang dilakukan oleh anak-anak kita karena ini adalah aksi kemanusiaan, kita tidak memikirkan sesuatu yang besar yang mungkin ada uangnya baru kita kerja tetapi kita memulai dari apa yang ada pada kita,” ujarnya.

Dengan menggunakan buku bekas yang sudah terpakai lagi tetapi pihaknya mencoba untuk simpan di ATM buku ini untuk memberikan manfaat bagi seluruh anak-anak berusia sekolah tetapi juga seluruh masyarakat, warga jemaat yang membutuhkan pengetahuan.

Pengurus PAM GKI Waena sedang berpose didepan ATM Buku (Foto : Papuauni/Ms)

Melalui ATM buku ini, kata dia, jemaat Siloam Waena juga bisa melanjutkan saksi kristus untuk menolong saudara-saudaranya lewat program yang sudah diputuskan oleh pemerintah tetapi diterjemahkan dalam gereja sebagai anjungan tunai membaca yang dimulai di jemaat Siloam Waena.

Lanjut dia, pernah ada survei yang dilakukan oleh anak-anak muda di jemaat itu yang juga relawan dari program buta aksara, menyampaikan bahwa beberapa tempat disekitar Papua, ada anak-anak berusia sekolah tetapi tidak bisa berbahasa indonesia dengan baik dikarenakan mereka minim fasilitas.

Minim fasilitas disini banyak arti di antaranya karena aksesnya tidak terjangkau, daerah geografisnya, tidak ada tenaga gurunya, hal-hal ini yang menjadi kesulitan bagi mereka.

Sekretaris PAM Jemaat Gereja Siloam Waena Stevanus Remere mengatakan ATM buku itu merupakan salah satu program kerja di pemuda jemaat Siloam Waena.

“Jadi ATM buku ini tujuannya adalah kita mengisi buku, kemudian jika penuh maka teman-teman akan membukanya lalu membuat perpustakaan gereja di lantai dua gedung sebaguna yang bisa dikunjungi oleh anak-anak berusia sekolah,” kata Stevanus.

Tujuan lain adalah seketika pihaknya mengumpulkan buku, ada orang yang nanti datang untuk membaca, kemudian seketika buku yang dikumpulkan di ATM itu banyak maka akan dikirim ke sekolah-sekolah yang membutuhkan buku, seperti contoh sekolah-sekolah di pedalaman Papua.

Michael Jhon Yerisetouw, duta baca Papua berharap ide kreatif ATM buku yang dilakukan oleh Jemaat Siloam Warna itu kedepannya bisa menjadi prototaib bagi Sinode GKI di tanah Papua untuk didorong ke gereja-gereja yang ada untuk melakukan hal yang sama.

“Karena GKI adalah jemaat yang tertua di Papua dan mempunyai jemaat diseluruh wilayah di Papua,”katanya.

ATM Buku PAM GKI Siloam Waena (Foto : Papuaunik/Ms)

Jika semua melakukan hal yang sama maka gelombang literasi ini bisa tercapai. Sebagai duta baca, dirinya merasa bangga dan senang dengan program yang dilakukan oleh PAM Jemaat Siloam Waena.

“Saya sebagai duta baca hendak bekerja sama dengan seluruh komunitas untuk mendorong literasi,” ujarnya.

Seperti diketahui bersama bahwa melalui wortec ekonom forum 2015 menyebutkan bahwa literasi itu merupakan bagian penting atau skil-skil yang dibutuhkan abad ke-21.

“Jadi literasi baca-tulis, literasi numerik, literasi muliti media, ada enam besik literasi yang menjadi penting untuk dikuasai, jadi kalau teman-teman PAM GKI Siloam Waena bisa melakukan hal ini, saya yakin harapan kita itu bisa tercapai,” katanya.

Sementara itu, Pendeta Edison Sekenyap, Kepala Biro PAM GKI Sinode di tanah Papua berharap ini menjadi semacam pilot project untuk seluruh pemuda-pemudi jemaat gereja-gereja di Papua maupun generasi secara menyeluruh.

“Ini juga kami akan sampaikan kepada seluruh koordinator PAM di tingkat Klasis di tanah Papua baik Papua maupun Papua Barat, mungkin mereja punya kreasi lain tapi ini bisa menjadi modul atau contoh untuk bagimana kita meningkatkan minat baca untuk generasi muda, tidak hanya di gereja GKI di tanah Papua tetapi mengembangkan minat baca itu diseluruh generasi muda,” tambah Edison. (Ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

56 − 54 =